Sabtu, 19 Februari 2011

Nyepi ke 4 tanpa kehadiran mu

  Beberapa hari ini aku sibuk lebih tepatnya menyibukan diri dalam segala rutinitas hidup . Memang terlihat sulit dan berat namun karena sudah biasa , keseharian ini akan terasa ringan dan terasa aneh bila sehari saja tidak dikerjakan .

 Aku tertegun ternyata Nyepi sebentar lagi , mungkin hitungan hari dari postingan ini diterbitkan , mungkin semarak dengan khidmat menyambut hari raya bagi pemeluk Hindu lain  begitupula aku , namun .......

Bias kesedihan menyeruak tiba tiba tanpa sengaja memori kenangan di masa silam muncul dan membisikan hati kecil ku untuk mulai menerawang kedetailan memori itu . Masa kecil yang penuh dengan tawa menikmati hari raya , saat dimana berkumpul keluarga kecil ku , kelengkapan dan keserasian antara ibu -anak , ayah -ibu dan , Ayah dan anak .

Aku mulai tersadar kehidupan kami sudah berbeda , terlalu banyak jurang pemisah yang siap mematenkan pondasi pondasi dan sekat sekat yang ada antara hubungan ku dengan ayah .

Keegoisan ku yang belum bisa memaafkan , keangkuhan ku yang begitu tinggi untuk menatap mata , asal kau tahu ayah , itu hanya lisan ku namun hati ku berkata berbeda .

Dinginnya sikap ku menutupi hangatnya jiwa ku untuk merasakan hangatnya ketika aku menyentuh tangan mu

Terkenang di masa silam , aku amat menghormati mu , ucap , tindakan dan langkah ku selalu berdasarkan kehendak mu . Besarnya hormat dan bakti ku berikut rasa percaya ku begitu besar mengalahkan segala nya ketika berhadapan di depan mu.

Kau meminta ku ke kanan , aku lakukan
Kau meminta ku menjadi seorang yang mandiri , aku lakukan
Kau selalu mengingatkan aku untuk tidak cengeng , aku akan berlari ke belakang dan seketika menghapus tetes air mata ku .
Kau selalu inginkan aku menjadi yang terdepan , sebisa ku usahakan

Namun itu runtuh seketika oleh sebuah penghianatan
Kau memilih pergi tanpa menatap wajah merah ku yang terkadang mencoba untuk mengarahkan wajah ku ke atas . Bukan aku egois dikuasai angkara murka melepas kepergian mu , tidak ayah .

Aku hanya ingin menunjukan ketegaran ku di depan mu , seperti janji ku tidak akan menunjukan air mata dan sebagai gadis kecil mu yang cengeng lagi .

Hati kecil saat itu menjerit " Ayah ... lihat aku , aku disini ada , jangan langkahkan kaki mu keluar dari pintu itu , letakkan koper mu dibawah biar aku bawa ke dalam , dan membuatkan mu secangkir kopi dengan 1 sendok gula . Engkau tidak pergi bukan meninggalkan kami ? tapi engkau membawa koper itu untuk kembali bersama kami ?"

Namun kau lancangkan kaki mu melangkah keluar , kau acuhkan wajah mu sekalipun dengan tangis dan berkata " Aku sudah terlalu banyak membuat kecewa , jaga ibu mu dan jaga diri mu "

Aku tahu jiwa mu berontak , aku yakin hati mu berkata "Kemarilah anak ku , jangan kau teteskan air mata mu , telapak tangan ini siap meraih setiap dua bola mata mu agar tak kau teteskan air mata mu "

Ayah lisan ku memang amat sangat membenci setiap tindakan dan perbuatan mu , namun dalam hati kau selalu kebanggaan ku .

Kau selalu menjadi panutan ku , aku selalu memposisikan mu bagai seorang guru .

Aku belum puas memperlihatkan pada mu bahwa aku sekarang sudah tidak cengeng seperti dulu , aku sudah berani tidur di kamar ku sendiri , seperti yang ayah inginkan bukan ?

Aku ingin di pagi perayaan Nyepi aku terbangun dan melihat kau memanggil ku dan mendendangkan lagu kesukaan mu .

Kau pakai baju kotak kotak biru kesukaan mu yang aku pilihkan , aku ingin kita bisa bercanda lagi ketika aku meraba perlahan wajahku dari dahi hingga bibir dan mengarahkan tangan kanan ku ke wajah mu .

"Yah , aku benar mirip kamu ya ? hampir sama tidak ada beda bahkan aku sama sekali tidak mirip ibu ku  "

Engkau dengan gagah mu akan tertawa dan berkata " Jelas kamu anak ku bukan anak ibu mu  "

Ibu ku akan menunjukan wajah sirik nya melihat obrolan kami , seolah keberadaannya  tidak diakui diantara obrolan ayah dan anak

Baju baju mu aku rapikan dan aku kemas dengan baik , berharap ketika kau pulang dan kembali berkumpul dengan kami , kau akan bertanya "Dimana baju safari ku ?"

cangkir kopi dan semua peralatan listrik mu aku simpan dengan rapi , memang terkesan aku sembunyikan agar kelak kau kembali maka aku lah orang yang kau tanyakan pertama kali sehingga aku bisa lebih sering menatap wajah mu .

Sekian tahun kita terpisah dan tak pernah berjumpa lagi , aku selalu terhanyut dalam bayangan bagaimana rupa mu kini . Apa kau sehat disana ? Apa kau tidak lupa bersembahyang? dan terakhir masihkah kau ingat bahwa aku anak mu ?

Yang jelas ku doakan engkau bahagia dengan pilihan hidup mu kini dan anak mu sekarang ku doakan bisa menjadi yang baik seperti yang kau harapkan .

Terakhir aku hanya bisa mencuri pandang dari kejauhan itu pun 1,5 tahun silam , kau tampak bahagia dengan keluarga mu yang sekarang , tertawa riuh disana dan aku terbelenggu dalam tangisan . Bukan aku tak mau mencari tahu tentang mu ayah , namun kekuatan hati ku akan terkoyak melihat kenyataan .

Terimakasih atas didikan mu selama ini , aku sudah tumbuh dan besar sekarang di usia ku kini . Begitupula ibu dirumah , dia masih setia menunggu mu dan mengirimkan mu doa di setiap malam.

Disetiap hari kelahiran mu , ibu hanya menggunakan bingkai foto mu dan berharap kau menyaksikan ada kami yang setiap 6 bulan memperingati hari lahir mu dalam agama Hindu . Aku dengan segala kekuatan ku , menopang air mata ketika ibu ku memasang benang putih diatas bingkai pertanda pengharapan agar panjang umur bagi yang memakai , ketika itu aku hanya berkata " jangan di pasang di foto Ayah masih hidup , biar aku yang menggantikan prosesi ini  "

Aku berharap kau akan segera ingat ada aku dan ibu menunggu mu

Selamat Hari Raya Nyepi ayah ,aku berdoa agar Nyepi berikutnya kau mulai ingat akan keluarga kecil mu , Nyepi berikutnya lagi kau jejakan kaki dirumah , Nyepi berikutnya kau sapa aku , nyepi berikutnya kau ada menemani ku dan ibu .

Dimana akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hati ku selalu ingin bertemu
Untuk mu
Aku bernyanyi
Untuk Ayah tercinta
Daku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipi ku
Ayah , dengarkan lah
Aku ingin berjumpa walau
hanya dalam mimpi

Lihatlah hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
untuk mu
Aku bernyanyi


Untuk Ayah tercinta
Daku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipi ku
Ayah , dengarkan lah
Aku ingin berjumpa walau
hanya dalam mimpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar